Bukan Sekedar Penyakit Kuning, Hepatitis Bisa Berakibat Serius
Hepatitis merupakan peradangan pada organ hati yang sering kali tidak menimbulkan tanda khas seperti kulit atau mata menguning, terutama pada tahap awal penyakit. Gejala kuning baru muncul ketika kadar bilirubin dalam darah meningkat akibat gangguan fungsi hati. Oleh karena itu, hepatitis dapat berkembang tanpa disadari hingga menimbulkan kerusakan yang lebih berat. Apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, penyakit ini berisiko menyebabkan sirosis, gagal hati, bahkan kanker hati.
Berikut beberapa dampak dan komplikasi yang dapat terjadi akibat hepatitis.
Gangguan Fungsi Hati pada Fase Akut (Akibat Jangka Pendek)
Peradangan yang disebabkan oleh infeksi virus maupun paparan zat beracun dapat mengganggu kemampuan hati dalam menjalankan berbagai fungsi penting. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan:
- Penumpukan racun: Kemampuan hati untuk menyaring sisa metabolisme, obat-obatan, dan zat berbahaya dari aliran darah menurun sehingga racun dapat menumpuk di dalam tubuh.
- Penyakit kuning (jaundice): Gangguan pada aliran empedu menyebabkan bilirubin meningkat dalam darah. Akibatnya, kulit dan bagian putih mata tampak menguning, urine menjadi lebih gelap, sedangkan feses berwarna lebih pucat.
- Malnutrisi: Produksi empedu yang menurun menghambat proses pencernaan lemak sehingga penyerapan berbagai zat gizi penting menjadi kurang optimal.
Komplikasi Hepatitis Kronis (Jangka Panjang)
Hepatitis yang berlangsung selama lebih dari enam bulan, terutama akibat infeksi virus hepatitis B atau C, dapat menyebabkan kerusakan hati yang bersifat permanen, antara lain:
- Fibrosis hati: Peradangan hati yang terjadi secara terus-menerus dapat memicu terbentuknya jaringan parut. Pada tahap awal, jaringan hati yang masih sehat masih dapat menggantikan sebagian fungsi area yang rusak.
- Sirosis hati: Fibrosis yang semakin luas akan mengubah struktur hati secara permanen sehingga organ menjadi lebih keras, mengecil, dan kehilangan sebagian besar fungsinya.
- Kanker hati (karsinoma hepatoseluler): Peradangan kronis dalam jangka panjang dapat memicu perubahan sel hati menjadi ganas. Hepatitis B dan C kronis menjadi penyebab utama meningkatnya risiko kanker hati.
- Gagal hati: Pada kondisi ini, kerusakan hati telah mencapai tahap akhir sehingga organ tidak lagi mampu menjalankan fungsi vital. Keadaan ini mengancam nyawa dan umumnya memerlukan transplantasi hati.
Dampak pada Organ Lain
Selain merusak hati, hepatitis juga dapat menimbulkan gangguan pada organ lain, di antaranya:
- Hipertensi portal: Jaringan parut menghambat aliran darah menuju hati sehingga tekanan pada vena porta meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan penumpukan cairan di rongga perut (asites) maupun varises esofagus yang berisiko mengalami perdarahan.
- Ensefalopati hepatik: Menurunnya kemampuan hati dalam membuang racun, seperti amonia, menyebabkan zat tersebut mencapai otak. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan fungsi otak mulai dari sulit berkonsentrasi, kebingungan, perubahan perilaku, hingga penurunan kesadaran.
- Gangguan ginjal: Respon sistem kekebalan terhadap infeksi hepatitis, khususnya tipe B dan C, dapat menyebabkan peradangan pada glomerulus, yaitu bagian ginjal yang berfungsi menyaring darah.
- Asites dan edema: Penumpukan cairan dapat menyebabkan perut membesar serta pembengkakan pada tungkai atau kaki.
Hepatitis sering berkembang tanpa gejala yang jelas, deteksi dini melalui skrining dan pencegahan dengan vaksinasi sangat penting untuk dilakukan. Upaya tersebut dapat membantu melindungi fungsi hati, mencegah komplikasi serius, serta meningkatkan keberhasilan pengobatan apabila hepatitis terdeteksi lebih awal.
Daftar Pustaka:
- World Health Organization. (2024). Hepatitis. Geneva: World Health Organization.
- World Health Organization. (2024). Global hepatitis report 2024. Geneva: World Health Organization.
- World Health Organization. (2022). Guidelines for the prevention, diagnosis, care and treatment for people with chronic hepatitis B infection. Geneva: World Health Organization
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana hepatitis virus. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kumar, V., Abbas, A. K., & Aster, J. C. (2020). Robbins & Cotran Pathologic Basis of Disease (10th ed.). Elsevier.
- Schiff, E. R., Maddrey, W. C., Reddy, K. R., & Sorrell, M. F. (2020). Schiff's Diseases of the Liver (13th ed.). Wiley-Blackwell.
Perlu diingat bahwa informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran tenaga medis. Pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani bisa bervariasi tergantung pada fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis akan memberikan rekomendasi pemeriksaan dan penanganan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.
Untuk kemudahan dalam berkonsultasi, Anda dapat memanfaatkan aplikasi IHC Telemed. Dengan aplikasi ini, Anda bisa melakukan konsultasi online dengan dokter kapan saja dan di mana saja. Unduh IHC Telemed sekarang dan manfaatkan fitur-fiturnya untuk mendukung kesehatan Anda.
Yuk tetap jaga kesehatan kita, Dapatkan Informasi tentang:
Artikel kesehatan kami : https://rswonolangan.ihc.id/artikel.html
Informasi terkait jadwal poli spesialis: https://rswonolangan.ihc.id/cari-dokter.html
Lakukan pendaftaran melalui:https://mitra.nusamed.co.id/
Informasi lebih lanjut silahkan hubungi nomor layanan pelanggan kami Rumah Sakit Wonolangan Klik Link dibawah ini
