Cemas, Overthinking, atau Anxiety? Bedanya Apa Sih?
Banyak anak muda pernah merasa cemas saat menghadapi ujian, presentasi, atau keputusan besar. Kadang pikirannya berputar terus sampai susah tidur itulah yang sering disebut overthinking. Namun, apakah itu sama dengan anxiety atau gangguan kecemasan? Jawabannya: tidak selalu. Overthinking adalah pola berpikir yang bisa muncul pada siapa saja, sedangkan anxiety atau gangguan kecemasan adalah kondisi klinis yang lebih serius dan menetap, meskipun keduanya saling berhubungan dan dapat memperburuk satu sama lain.
Kecemasan sebenarnya adalah respons normal terhadap stres, misalnya rasa tegang sebelum wawancara kerja atau gelisah saat menunggu hasil penting. Namun, saat kecemasan menjadi berlebihan, berlangsung hampir setiap hari selama berbulan-bulan, sulit dikendalikan, dan mengganggu fungsi sehari-hari, ia dapat diklasifikasikan sebagai gangguan kecemasan. Dalam dunia medis, kriteria diagnosis (misalnya DSM-5) menekankan durasi, intensitas, dan seberapa besar kecemasan itu mengganggu kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, overthinking atau dalam istilah ilmiah disebut rumination dan worry, adalah kebiasaan berpikir berulang mengenai masalah, skenario terburuk, atau penyesalan masa lalu. Pola ini bukan diagnosis medis, tetapi proses kognitif yang membuat seseorang terjebak dalam lingkaran pikiran negatif. Overthinking sendiri dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan jika berlangsung kronis.
Perbedaan praktis antara keduanya bisa dilihat dari beberapa hal. Gangguan kecemasan biasanya menetap, intens, dan sulit dikendalikan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Overthinking bisa muncul secara episodik?misalnya semalam sebelum presentasi meski pada sebagian orang dapat menjadi pola kronis. Pada gangguan kecemasan, penderita sering merasa sama sekali tidak bisa mengendalikan pikirannya, bahkan disertai gejala fisik seperti jantung berdebar, sesak napas, tremor, atau gangguan tidur. Overthinking lebih banyak muncul di ranah pikiran, meski juga bisa berdampak fisik bila berlangsung lama.
Meski terdengar ?hanya pikiran?, overthinking bisa berbahaya jika dibiarkan. Penelitian menunjukkan bahwa pola berpikir berulang ini berhubungan dengan peningkatan kecemasan, depresi, serta penurunan emosi positif. Lingkaran pikiran yang sulit dihentikan dapat mengganggu tidur, konsentrasi, dan membuat seseorang sulit mengambil keputusan. Jika berlangsung kronis, overthinking dapat memperkuat kecemasan dan memicu masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Untungnya, ada strategi berbasis bukti yang bisa membantu. Latihan mindfulness atau meditasi kesadaran terbukti efektif mengurangi ruminasi dan kekhawatiran. Terapi perilaku-kognitif (CBT) adalah intervensi utama dalam menangani gangguan kecemasan, dengan teknik mengubah pola pikir maladaptif dan melatih eksposur. Beberapa teknik sederhana juga bisa dicoba, misalnya membatasi ?worry time? dengan menuliskan kekhawatiran untuk dipikirkan pada waktu tertentu, lalu menunda sisanya. Aktivitas fisik rutin dan tidur yang cukup juga berperan besar dalam menjaga kestabilan emosi. Jika gejala kecemasan menetap lebih dari enam bulan, semakin intens, atau sangat mengganggu aktivitas harian, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
Singkatnya, overthinking adalah pola pikir berulang yang bisa dialami siapa saja, sedangkan anxiety disorder adalah kondisi klinis dengan dampak lebih serius terhadap kesehatan mental dan fisik. Keduanya saling terkait: overthinking bisa memicu atau memperburuk kecemasan, dan kecemasan kronis sering menumbuhkan overthinking. Dengan mengenali perbedaannya, kita bisa lebih waspada, mengambil langkah pencegahan, dan mencari bantuan bila diperlukan.
Referensi
- American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). 2013.
- World Health Organization. Anxiety disorders. WHO, 2022.
- National Institute of Mental Health. Anxiety Disorders. NIMH, 2022.
- Joubert, A. F., et al. Understanding Rumination and Worry in Mental Health. Current Opinion in Psychology, 2022.
- Querstret, D., & Cropley, M. Assessing treatments to reduce rumination and worry: A systematic review. Clinical Psychology Review, 2013.
- Hallion, L. S., & Ruscio, A. M. A meta-analysis of the relation between worry, rumination, and symptoms of anxiety and depression. Psychological Bulletin, 2011.
Jika Gejala berlanjut yuk lakukan Konsultasi dengan Psikolog atau Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di IHC RS Wonolangan.
Psikolog Klinik:
Mariya Manna, M.Psi., Psikolog
Kamis 14.00 - Selesai
Jum?at 15.00 - Selesai (Hari lain sesuai perjanjian)
Poli Jiwa :
dr. Saiful Alam, Sp.KJ
Selasa & Kamis 15.00 - Selesai
Perlu diingat bahwa informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran medis dari dokter. Pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani bisa bervariasi tergantung pada fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis akan memberikan rekomendasi pemeriksaan dan penanganan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.
Untuk kemudahan dalam berkonsultasi, Anda dapat memanfaatkan aplikasi IHC Telemed. Dengan aplikasi ini, Anda bisa melakukan konsultasi online dengan dokter kapan saja dan di mana saja. Unduh IHC Telemed sekarang dan manfaatkan fitur-fiturnya untuk mendukung kesehatan Anda.
Yuk tetap jaga kesehatan kita, Dapatkan Informasi tentang:
Artikel kesehatan kami : https://rswonolangan.ihc.id/artikel.html
Informasi terkait jadwal poli spesialis: https://rswonolangan.ihc.id/cari-dokter.html
Lakukan pendaftaran melalui:https://mitra.nusamed.co.id/
Informasi lebih lanjut silahkan hubungi nomor layanan pelanggan kami Rumah Sakit Wonolangan Klik Link dibawah ini